Mental illness atau juga
disebut gangguan mental(jiwa), dewasa ini telah menjadi perhatian yang nyata.
Pasalnya hal tersebut merupakan satu dari berbagai humanity problem. Tidak dapat dihindari bahwa mental illness memang
harus menjadi perhatian khusus, mengingat dampak yang buruk sangat memungkinkan
dapat terjadi bagi yang mengalaminya. Lalu apa sebenarnya mental illness tersebut?
Menurut ibu Nailiya Nikmah,S.Pd.,M.Pd., salah satu
dosen dan juga kepala jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Banjarmasin, “Mental
Illness adalah sebuah istilah yang ada dalam ilmu psikologi. Mental illness merupakan gangguan
kejiwaan yang terdiri atas beberapa jenis seperti anxiety disorder, psychotic
disorder, eating disorder, personality disorder, dan sebagainya.
Dalam istilah sederhananya seperti gangguan kecemasan, perasaan takut
berlebihan, perasaan bersalah, suasana hati yang berubah-ubah dan sebagainya”. Lalu
apakah benar mental illness ini dapat
terjadi dilingkungan kampus dan bagaimana latar belakang terjadinya hal
tersebut?
“Di
lingkungan kampus sependek pengalaman ibu, jarang terjadi, karena anak muda
cepat beradaptasi. Tetapi bukan berarti tidak ada, perhatian dosen dan
teman-teman ikut mempengaruhi kondisi mental mahasiswa. Perhatian paling utama
adalah lingkungan keluarga. Sesekali ada juga terjadi mahasiswa yang
bermasalah, itu kebanyakan karena kurang perhatian dari orang-orang
disekitarnya (mungkin karena dia tertutup pribadinya). Masalah utama berikutnya
adalah ekonomi yang lemah, namun ini biasanya bisa mereka atasi dengan
kehidupan agama yang baik”, tutur ibu Dra. Hj. Nurhidayati M.Pd. atau juga
akrab disapa ibu Ida wakil direktur 3 bidang kemahasiswaan Politeknik Negeri
Banjarmasin. Dari pernyataan beliau dapat kita ketahui bahwa mental illness di lingkungan kampus
sangat mungkin bisa terjadi, namun bisa dipastikan masih dalam skala yang
kecil. Warga kampus khususnya mahasiswa memang rentan terhadap stress, hal tersebut memang dapat
menjadi pemicu munculnya gangguan mental tersebut.
Apakah
tugas kuliah menjadi salah satu faktor mahasiswa menjadi stress? Dalam hal ini ibu Nailiya Nikmah,S.Pd.,M.Pd. mengatakan
bahwa tugas kuliah tidak serta-merta menjadi pemicu illness tersebut, karena
menurut beliau tugas yang banyak jika dikerjakan dan di manage dengan baik akan baik-baik saja dan penyebab illness adalah hal yang kompleks. Aldy
Firdaus, salah satu mahasiswa Poliban juga mengatakan bahwa segala situasi dan
kondisi yang ada dan terjadi dilingkungan kampus tidak selalu menjadi penyebab
penyakit ini, semua sebenarnya kembali kepada diri kita pribadi. Maka perlu
kita garis bawahi bahwa tugas kuliah memang bukan satu-satunya hal penyebab mental illness tersebut.
Membahas
mengenai mental illness, tentu saja
sangat perlu mengetahui apa saja ciri-ciri seseorang khususnya mahasiswa yang
terdampak mengalami gangguan mental tersebut. berdasarkan wawancara secara
daring dengan bapak H.M. Yassir Fahmi, S.Pd.I.,MSI. Kaprodi Akuntansi Keuangan
Lembaga Syariah Politeknik Negeri Banjarmasin tersebut, baliau menjelaskan
bahwa gangguan kejiwaan ini banyak sekali cirinya diantaranya, tidak bisa menyelesaikan masalah/stress, sulit memahami situasi dan orang
lain, cenderung tidak bisa
beradaptasi, cenderung menghindari
pergaulan dan sebagainya. Selain itu, ibu Hj. Nurhidayati wadir 3 Poliban juga
mengatakan bahwa Mahasiswa yang mengalami masalah kejiwaan ini biasanya suka
menyendiri (melamun di kelas). Sering tidak hadir kuliah, atau bisa juga sering
berbohong.
Lalu
seberapa berbahaya-nya mental illness ini dikalangan para mahasiswa yang
mengalaminya?. Ibu Nailiya Nikmah menjelaskan jika sudah berada pada level parah/serius dan tidak berusaha ditangani dengan
baik, tentu akan bisa berdampak buruk.
Misalnya, ia akan ketinggalan pelajaran, tidak bisa berkarya dan mungkin saja akan lebih buruk dari itu, misalnya upaya bunuh
diri dan sebagainya.
Kemudian ibu Hj. Nurhidayati juga mengatakan, ini berbahaya karena akan membawa
dirinya pada kegagalan meraih impiannya atau bahkan dia tak punya mimpi lagi alias
putus asa. Terkait hal tersebut kita dapat mengetahui bahaya-nya mental illness ini, khususnya pada
mahasiswa.
“Pada umumnya, tidak semua orang bisa menyadari kalau ada
orang yang menderita mental illness di sekitarnya. Kalau orang tersebut tidak
bercerita, tidak mengungkapkan problemnya, tidak menunjukkan gejala apa-apa, ya
tidak ada yang tahu. Saya kira seperti itu juga dengan mahasiswa di kampus.
Jangankan dosen, orang tuanya bahkan bisa jadi tidak tahu anaknya mengalami
mental illness. Lagi pula, kita tidak
bisa langsung men-judge seseorang
mental illness hanya karena dia pendiam dan sering murung misalnya. Yang bisa
memberikan diagnosa ya harus ahli atau pakar, misalnya psikiater, setelah
melewati tes dan berbagai pemeriksaan. Bahkan diri sendiri, jangan langsung
menganggap diri kita mental illness lho ya. Hati-hati sekali ini”, ibu
Nailiya Hikmah menjelaskan.
Kemudian
bagaimana cara mengatasi mental illness tersebut?. Dalam hal ini, ibu Nurhidayati
wadir 3 Poliban mengatakan, “Solusi yang paling utama adalah perhatian, bisa
dari teman dekatnya. Di kampus ada dosen wali, yang dapat jadi perantara antara
kampus dengan orang tua dirumah. Keterbukaan sangat diperlukan untuk mengatasi
masalah jiwa ini. Dosen wali adalah pengganti guru Bimbingan Konseling di
sekolah. Berbagai kegiatan ekstra kurikuler juga memfasilitasi mahasiswa rileks
seperti olahraga, seni dan berkreativitas sesuai potensi yg dimilikinya
merupakan solusi mengatasi mental illness juga. Perpustakaan kampus juga bisa
menjadi tempat mencurahkan masalah melalui membaca maupun menulis, juga
laboratorium untuk mahasiswa berkarya”, Jelasnya.
Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai seorang
mahasiswa/ teman sebayanya untuk mengatasi hal tersebut?. Menurut salah satu
mahasiswa Poliban, Aldy Firdaus mengatakan, ” kita sebagai teman berhak untuk
menghindari dan menghindarkan segala tindakan bullying, baik itu sebuah ejekan
bahkan pengucilan terhadap teman yang sedang mengalami gejala penyakit mental
ini. Pada reaksi atau gejala dari mereka variatif namun sebagai teman yang
mengetahui ada baiknya kita membantu dengan versi terbaik dari diri kita. Dari
saya bisa dengan merangkul mereka, dalam artian kita mendengarkan mereka yang
bersedia bercerita dengan kita, sampai ia merasa tenang. Kita dapat berperan
dengan memberi mereka Human touch
atau sense of touch , dengan harapan
agar dekapan tersebut dapat mengurangi tekanan mental pada dirinya”, jelas Aldy
memberikan sarannya.
Kiat-kiat
mencegah gangguan mental
oleh ibu Nailiya Nikmah,S.Pd.,M.Pd. (Dosen
Politeknik Negeri Banjarmasin);
1. Mendekatkan diri kepada Tuhan.
Apapun agamamu, jalankan ibadah agama yang
kamu yakini dengan rutin, konsisten, jangan sampai melupakan Tuhan dalam segala
keadaan.
2. Selalu bersyukur setiap hari atas segala hal yang
terjadi.
3. Selalu berpikir positif, selalu mencarikan alasan baik
dibalik semua kejadian yang menimpa.
4. Biasakan menuliskan persoalan-persoalan yang dihadapi ke
dalam buku harian, ini juga akan sangat membantu untuk mengurangi beban
pikiran.
5. Mengerjakan tugas satu per satu, tidak menumpuknya di
akhir batas tenggat misalnya.
6. Berdamai dengan kenyataan dan memaafkan diri sendiri.
Memaklumi keterbatasan diri sendiri bukan berarti diam tidak berusaha lho ya.
Berusaha dengan keras tapi setelah itu, ikhlaskan dan serahkan hasilnya pada
Tuhan.
7. Melakukan self talk yang memotivasi. Ini bagus dilakukan
untuk mendekatkan kita pada hal-hal positif yang ingin kita raih.
8. Bergaul dengan orang-orang yang positif. Kadang kita lebih
banyak mendengar pendapat orang daripada kemampuan diri sendiri. Oleh sebab
itu, perbanyak bergaul dengan orang-orang positif yang selalu membuatmu
terinspirasi.